Minggu, 06 Desember 2009

REFLEKSI ONTOLOGI DIRI

REFLEKSI ONTOLOGI DIRI
oleh Rahmah Purwahida
NIM. 09706251019
LT – A
PROGRAM PASCA SARJANA UNY


Kita semua pada hakikatnya adalah seorang pelajar, disadari maupun tidak. Mulai dari kecil kita telah menjadi seorang pembelajar sejati. Belajar mengenal bahasa ibu, dan mempraktekkannya; belajar mengenai gerakan, dan melakukannya; belajar mengenal alam, dan memakmurkannya; dan belajar-belajar yang lain.

Ketika beranjak dewasa, kitapun terus belajar. Belajar mengenali perubahan fungsi dan tanggung jawab, dan belajar tuk menjadi seorang yang berkepribadian matang. Mengenali dan mempelajari perubahan fungsi dan tanggung jawab ketika beralih peran dari seorang pelajar ke seorang pekerja, dari seorang bujangan/gadis kepada seorang suami/istri, dan belajar dari hanya seorang suami menjadi seorang suami plus ayah bagi anak-anak.

Terkadang proses pembelajaran itu sering terjadi tanpa kita sadari, sering tidak kita mengerti bahwa sesungguhnya kita telah dan harus melewati proses pembelajaran. Manusia terus berproses, dunia terus berputar, dan lingkungan kita pun terus berubah, satu-satunya cara tuk bisa terus bertahan dan menjadi sukses adalah dengan belajar.

Belajar bukan hanya di bangku-bangku kelas tetapi juga di lingkungan kita, dalam kehidupan keseharian, dan dengan orang-orang yang mungkin tidak memiliki gelar guru ataupun dosen, dan bisa saja belajar dari benda mati dan dari pengamatan terhadap keadaan sekitar. Dunia ini adalah sekolah besar, universita kehidupan, sekolah kehidupan. Dan kita ini pada dasarnya adalah pelajar, pelajar sekolah kehidupan.

Sadarilah kita adalah pembelajar.
Jangan pernah puas dengan apa yang kita miliki sekarang, jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang. Seorang pelajar seharusnya terus merasa haus dengan ilmu dan terus menerus belajar. Seorang pelajar yang baikpun seharusnya tidak memiliki sifat sombong karena kesombongan akan membuat kita merasa lebih dibandingkan orang lain, dan menyebabkan kita berpaling dari pelajaran yang seharusnya terus kita pelajari. “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”

Sadarilah dunia dan diri kita terus berubah.
Perubahan di dunia ini berjalan konstan, ajeg, stabil atau terus menerus. Karena itu, barang siapa yang tidak mau dan tidak mampu tuk mengikuti perubahan, maka bersiap-siaplah tuk terlindas perubahan tersebut. Penemuan-penemuan baru, metode-metode baru, strategi-strategi baru, alat-alat baru, teori-teori baru, sumber daya manusia baru, dll, intinya, semua hal di dunia ini terus berkembang, bukan hanya sekedar berubah. Apabila tidak disikapi dengan baik, orang-orang yang bertahan dengan dirinya dan masa lampaunya akan tertinggal dibelakang. Begitu pula peran kita dalam menyikapi perubahan sosial budaya dan lingkungan sekitar kita.

Sadarilah bahwa hasil dari pembelajaran adalah perubahan.
Inti dari belajar adalah adanya perubahan. Kita baru benar-benar dikatakan telah belajar jika telah menghasilkan perubahan dalam diri kita. Seseorang yang dari hari kehari berada dalam kondisi yang sama saja layaknya orang yang tidak pernah belajar. Kita seharusnya belajar, dengan perubahan status yang kita miliki, dari seorang single menjadi berpasangan, seharusnya melahirkan perubahan bersikap dalam diri kita. Setelah mengikuti pelatihan, seharusnya ada kinerja yang berubah, dan ada keterampilan yang bertambah. Setelah tertempa ujian kehidupan, seharusnya ada kedekatan religi yang meningkat. Dan seterusnya. Pembelajar sejati menjadikan perubahan ini bersifat positif, permanen dan berkelanjutan. Kita bisa mengevaluasi apakah kita benar-benar telah belajar atau belum dari mengevaluasi seberapa besar perubahan yang ada dalam diri kita.

Sadarilah proses pembelajaran terbaik adalah sebelum praktik.
Terkadang karena minimnya persiapan kita, proses pembelajaran terjadi ketika kita sedang berproses. Seperti baru belajar mengenai menyetir mobil padahal sudah punya mobil, belajar mengenai hak-kewajiban suami-istri padahal sudah menikah, belajar mengenai kesehatan anak setelah sang anak lahir, dan lain sebagainya. Padahal tempat terbaik belajar adalah sebelum kita terjun langsung dalam suatu aktivitas. “Keutamaan Ilmu Sebelum Iman dan Amal”.

Sadarilah dunia ini hanya tempat belajar, ujian, dan amalan; dan sesungguhnya akhirat adalah tempat kembali kita.
Sesungguhnya orientasi kehidupan kita sudah seharusnya ditujukan pada tempat kembali kita kelak. Segala pembelajaran, segala pencapaian, dan segala hal yang kita dapatkan seharusnya memuat nilai yang berorientasi kepada hari akhirat. Karena kita takkan selamanya berada di dunia ini, dan sesungguhnya segala yang kan kita dapatkan di sini kan kita tinggalkan.

“Dan pembelajar yang paling cerdas adalah pembelajar yang mempersiapakan segalanya untuk hari akhirnya”. [rT]

2 komentar:

  1. Aku telah menemukan ontologi dirimu sebagai perjalanan waktumu dan kesadaranmu. Namun aku juga telah menemukan ontologi diriku meliputi yang ada dan yang mungkin ada tentang diriku. Setidaknya itulah pikiranku. Ternyata aku juga menemukan bahwa ontologi diriku adalah keterbatasanku menuliskan semua pikiranku. Apakah aku bisa memikirkan bahwa hal yang demikian adalah cermin bagi diriku dan juga dirimu. Jika telah aku ucapkan maka itulah yang ada, sedangkan yang belum aku ucapkan meliputi yang mungkin ada. Maka renungkanlah.

    BalasHapus
  2. keberadaan yang sesungguhnya adalah yang kau yakini adanya. sehingga keterbatasanmu akan semakin terbatas selama kau tak pernah yakin "berkata mungkin" tentang sesuatu yang sesungguhnya ada. ontologi dirimu yang sesungguhnya adalah sebagian milikku dan ontologi diriku juga sebagian milikmu selama engkau meyakini itu ada.

    BalasHapus